Entah sejak kapan tepatnya saya jadi (lebih) sering ditemani secangkir white coffee dikala ngobrol sendiri.

26 Des 2017

Hawa Liburan

Udah Desember aja nih. Setahun kemarin udah ngapain aja yaaπŸ˜‰. Kayanya resolusi kurus bakal jadi resolusi tahun depan nih😜. Niat mengurangi berat badan itu selalu kacau dengan ajakan makan bakso ato pangsit mie. Selalu begitu. 😝😝. Seperti juga liburan tahun baru tahun-tahun kemarin, saya selalu bingung mutusin mau kemana. Aji-aji last minutes. Tahun lalu saya sekeluarga ga kemana-mana alias dirumah aja. Tahun ini pokoknya harus pergi deh. Escape from routine. Biar seger. Explore kota baru, anak-anak udah cukup gede untuk diajak berpetualang. Let's packing. Saya akan ceritakan di posting selanjutnya ya Kemana kita sekeluarga menghabiskan waktu liburan pergantian tahun ini.
0

27 Nov 2017

Perempuan Kurang Ngobrol

Ini tulisan terinspirasi saat ngobrol sama temen di chat room. Dia bilang saya ada bakat nge-blog karena pernah membaca salah satu postingan saya (huhuy ge-er dikomen begitu secara yang komenin itu penulis novel loh). Lah saya kan? cuma remahan biskuit camilan penulis di saat dikejar tenggat. Wkwkwk.

Jadi, suatu pagi saya chatting-an sama dia untuk tanya bagaimana caranya publish cerita di aplikasi Wa****d. Aaahh iya saya memang kadang males mencari tau sendiri. Setelah beberapa kali mencoba dan belum berhasil akhirnya saya putuskan untuk bertanya. Bukankah malu bertanya, sesat teman setan 😁.

Menulis sempat menjadi rutinitas saat saya masih di sekolaha dasar. Sempat berhenti karena lebih keren (anggapan saya dulu, dan saya menyesal) jadi pemain basket dan karateka semasa sekolah menengah. Hehehe.

Saat badan tak lagi atletis dan stamina lebih banyak terpakai untuk akrobatik urusan RT, menulis kemudian menjadi 'pelarian' saya. Lebih-lebih setelah berhenti bekerja dan mengasuh dua anak kecil dan satu anak besar (baca: bapaknya dua anak kecil tsb)πŸ˜„ Banyaknya waktu luang di saat anak-anak sekolah dan 'kemalasan' saya ngobrol dengan orang hahaha. Iya terkadang saya merasa autis (dalam tanda kutip)

Padahal sebagai wanita, suatu 'keharusan' untuk berbicara banyak. Iya wanita memang ditakdirkan untuk banyak bicara. Menurut artikel yang saya baca yang berjudul 'Wanita Bicara 20ribu Kata per hari, Pria Hanya 7000 Kata'. Baca lengkapnya disini. Di artikel itu tertulis bahwa sebuah penelitian menunjukkan kadar protein FOXP2 didalam otak manusia (wanita) yang menjadikan wanita lebih banyak bicara dibandingkan pria.

Jadi wajar ya klo perempuan umumnya lebih banyak bicara ketimbang pria. Karena ternyata dari sononya (baca: diciptakan Tuhan) emang di design begitu. Nah yang menarik adalah bagaimana perempuan itu memutuskan untuk 'banyak' ngomong perkara apa. Perkara baik ato sebaliknya. πŸ˜‰πŸ˜‰

Anggap aja menulis adalah pengganti berbicara. Bayangpun sehari 20 ribu kata. Klo dijadikan tulisan udah bisa jadi novel ga tuh?! Klo sekedar dipake bicara a.k.a ngobrol bisa jadi nambah dosa. Nah kalo diwujudkan dalam bentuk tulisan, ada tuh kesempatan untuk nambah uang saku ke mall😍😍😍. Aseeek.



-Ta-

Mampir-mampir disini juga yaaa wordpress dan wattpad. Thank you.




















0

17 Nov 2017

Semangkuk Bakso Di Sore Hari


Saya terbangun dari tidur siang, lamat-lamat saya dengar dari kamar sebelah anak-anak sedang bermain entah apa. Setelah benar terjaga saya bangkit dari tempat tidur membuka lebar korden, memandang luas keluar jendela. Hujan lumayan deras. 

Saya keluar dari kamar dan menuju kamar disebelah tempat anak-anak bermain. "Koq ga tidur siang?" pertanyaan saya meluncur begitu melihat mereka sedang duduk di lantai. Didepan mereka berserakan alat tulis, pianika, mainan bahkan sisir rambut yang tadi saya cari. Beberapa uang logam berserakan dan beberapa lagi sudah berbaris rapi. "Mami, kita ini lagi ngitung uang di celengan" Kata si adik. Si kakak melihat sebentar ke arah saya dengan mimik nyengir sambil tetap mengingat hitungannya.

Saya kembali ke kamar saya. Membereskan tempat tidur kemudian berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah rumah. Saya melihat cipratan air yang membasahi lantai teras belakang rumah dan bergumam "hujan turun lumayan deras".

Saya duduk di kursi teras belakang menikmati hujan yang tinggal rintiknya saja. Angin mengelus wajah saya. Dingin. Tumbuhan di taman terlihat segar, hijau dengan beberapa butiran air yang masih tinggal di dedaunannya. Adem. Saya mendongak keatas menatap awan yang menggantung di langit. Indah sekali. 

Cuaca seperti ini yang saya nantikan setelah berbulan-bulan sangat terik. Saya belum beranjak dari kursi. Saya masih menikmati suara rintik hujan, entah tiba-tiba saya terbayang semangkuk bakso terhidang di depan saya. Pasti lezat. Dingin-dingin begini makan semangkuk bakso hangat dan pedas. 

Agaknya keberuntungan memang sedang berpihak pada saya. Duk duk duk tiinng... Tukang bakso lewat, saya panggil dan disinilah saya sekarang. Duduk di depan meja makan dengan semangkuk bakso hangat siap di santap.





-Penikmat Semesta-
0

Yes I Need An Assistant

Phuufff, saya baru saja meletakkan pantat saya di kursi, menikmati secangkir kopi putih sambil menonton serial NCIS, salah satu dari beberapa serial detektif favorit saya yang di tayangkan di FOX. 

Saya menikmati betul setiap sesapan white coffee yang membasahi bibir, turun mengaliri kerongkongan dan berakhir di lambung. Sedap.

Terasa lega duduk di depan televisi dengan kondisi rumah yang rapi, bersih. Cucian sudah tergantung wangi di jemuran menunggu kering melambai manja ditiup angin dan disinari matahari pagi. Take a little break before i go to kitchen to cook a meal.

Menjalani sendiri rutinitas bersih-bersih pada saat si embak cuti karena keperluan keluarga. Saya rasa sesekali perlu juga mengerjakan ini itu sendiri. Menumbuhkan sense of belonging atas rumah dan segala isinya ini.

Yes i'm enjoy it......

just for a while.


Karena saya termasuk orang yang need an assistant. Bukan perkara capek badan ato sok-sokan punya assistant. Tapi lebih karena saya ingin menjalani keseharian saya dengan 'waras'. Punya waktu dengan diri saya sendiri misalnya melakukan hobi, janjian keluar bertemu teman-teman, ato sekedar baca buku ditemani angin sepoi-sepoi diberanda belakang rumah. Yang semua itu akan susah terlaksana tanpa bantuan orang lain.

How about you? kindly put you your comments below 

My selft need an assistant to help me to do 'the little' things, while i enjoy my 'big' things.





-Ta-




















0

26 Okt 2017

Apa Kabar E-KTP

Hi there! How's life?

Cuaca panas bener ya? Gimana di kota kamu? Ditempat saya wow banget panasnya. Sinar mataharinya to the max. Nyentrong dan setrong wkwkwk. Enjoy-in ajah ya! Sambil ngadem di kulkas.

Nyampah dikit nih, ngeluarin uneg-uneg, perkara e-ktp. Biar makin hot suasana. Btw udah pada pegang e-ktp ga? Sebenernya saya sudah sih, tapi berhubung dua tahun lalu saya pindah rumah, jadinya saya ngurus lagi. Males aslinya. Lambretaaa. Tapi mo gimana lagi. Ini aja saya udah 2x ngurus perpanjangan surat keterangan, sementara yang ASLI belum jadi.

Udin kaya nunggu jodoh nih buat yang jomblo. Don't know kapan muncul. Entahlah. Yah sutralah kita nantikan e-ktp ini dengan senantiasa ceria. Terus berkarya dan bahagia. Hip hip huraa.




--Ta--


0

27 Apr 2017

Ada Apa Dengan Dokter (AADD)

Hahaha judulnya Maksaaaaa...

Tiga minggu belakangan saya ngerasa ga klik sama urusan per-dokter-an. Pertama, waktu flu dan memutuskan untuk ke dokter karena bosen srat srot boros tisue. Ke dokter dengan harapan (besar) supaya sembuh. Mulai dari masuk ruang dokter ditanya ini itu, di periksa, waktu itu cuma dilihat tenggorokan, di stetoskop di bagian dada dan di ukur tekanan darah. Yes, that's all. Kadar keimanan tidak termasuk yang diukur. Kemudian dokternya tulis resep dan saya ke apotek untuk beli obat. 

Obat beres, saya pulang. Ada 4 macam pil yang diresepkan, diminum 3x1. Bayangpun saya kudu nenggak pil sehari 10 butir (ada satu resep yang hanya 1x1). Nah, sebagai pasien besar sekali harapan untuk sembuh setelah makan obat 10 butir per hari selama 4 hari. Belum lagi biaya yang saya keluarkan untuk ngusir ingus dan batuk itu lebih dari 350 ribu. Iyes tiga ratus lima puluh ribu rupiah sodara. 

Setelah tiga hari, belum ada tanda-tanda sembuh. Hari keempat dan pil-pil itu sudah habis. Do you know what happen? saya ga sembuh, batuk pilek ini terus berlanjut sampai masuk minggu ketiga. Ya Alloh, bahwasanya sakit adalah penggugur dosa. Dosa mana yang harus saya gugurkan sampai harus srat srot selama tiga minggu, kesana kemari nggembol tisue. lebih lagi setelah mengingat biaya yang saya keluarkan demi pil-pil dan kedisiplinan saya menghindari segala yang dipantangkan dokter. Pengen aja nyanyi "lumpuhkanlah ingatanku jika itu tentang dia". Pilu. Semakin merana setelah ada tetangga yang bilang "saya kemarin ke puskemas sembuh bu, dan cuma lima puluh ribu". Whaaattt!!!! Lanjut nyanyi:

"kamu pilih yang mana? klinik... klinik
"kamu suka yang mana? puskesmas... puskesmas
"kalo saya punya usul.... embok pijeet ajaaa.

Yah sudahlah nasi sudah dijemur dan jadi karak. 

Belum lagi urusan per-ingus-an beres. Pagi tadi saya baru mengunjungi dokter kulit. Sabtu kemarin setelah saya gunting rumput halaman belakang ada beberapa titik di kedua kaki saya yang gatal dan timbul seperti melepuh. Saya sudah menyangka itu karena racun binatang. Mungkin bulu ulat, gigitan serangka ato pipis kecoak. Hahaha yang terakhir ini asli jijay. 

Saya tidak terlalu kepikiran karena saya pernah mengalaminya beberapa waktu lalu setelah ber-outbound. Hanya memang kali ini area "luka" nya lebih luas. Tapi suamik suruh ke dokter kuatir ada kacang di balik peyek hal yang tidak sesederhana gigitan serangga, karena "luka"nya tampak melepuh.

Ya daripada bertanya-tanya. Ada baiknya memang di pastikan oleh seseorang yang dianggap berpengalaman dan memiliki "ilmu" untuk menjelaskan pada saya ada apa dengan kaki seksi saya ini. πŸ˜„πŸ˜„

Setelah menjalani antrian demi nama saya dipanggil. Tibalah giliran saya. Begitu saya duduk di kursi "pesakitan", dalam arti sebenarnya. Dokter langsung bertanya "Keluhannya apa?" Saya berusaha menjawab sambil spontan ingin menunjukkan "noda" di kaki saya. Belumlah saya gulung celana 7/8 saya untuk menunjukkannya beliau yang terhormat ibu dokter berkata "Iya saya kan lihat nanti, sekarang keluhannya apa dulu?" dengan mimik yang saya baca jauh dari kata ramah dan melayani. Glek.

Yah anggap sajalah saat itu saya sedang sensi. Akhirnya saya jawab "gatal". Kemudian dokter menyalakan lampu dan melihat "luka" saya. Dan spontan menjawab "oh itu karena binatang". Saya lega  dan beranggapan beliau berpengalaman, karena dengan melihat "luka" nya saja tanpa saya cerita kronologisnya beliau sudah bisa mengambil kesimpulan awal.

Pertanyaan saya selanjutnya adalah "Kira-kira binatang apa ya dokter?" Dan demi arwah para pahlawan yang gugur di medan perang inilah jawaban beliau yang terhormat ibu dokter "Yah kalo tau kita gebukin bareng-bareng bu". Dan itu dijawab dengan mimik gusar seolah pertanyaan saya adalah kind of stupid question. What the ....!!! Sabar ya bu. Makin sabar makin di injek kaya raya.

Harapan saya sih, harapan saya loh.  Beliau akan bertanya lebih lanjut seperti, kegiatan apa yang saya lakukan sebelum "noda" gatal itu nangkring di kaki saya. Ato apalah gitu yang sekiranya bisa membangun komunikasi dan obrolan kami terdengar merdu.

Tapi saya tetep sabar di dalam ruangannya, dengan kesunyian yang "membunuh" menunggu beliau menulis resep dan menulis kuitansi beserta diagnosa gatal saya. 

Setelah membayar biayanya seratus limapuluh ribu dan menerima resep beserta kuitansi saya keluar ruangan dengan berkata terimakasih yang terdengar tidak dari hati. Formalitas saja. Toh sebelum keluar ruangan saya yang kasih uang bukan sebaliknya. Tuh kan saya jadi arogan. 

Perjalanan pulang saya berhenti di apotik, Setelah menerima obat dari sang apoteker dan mendengarkan penjelasan penggunaan obat yang jauh lebih bersahabat, saya sampai rumah. 

Cukuplah pengalaman saya dengan dokter yang "aneh". Doa saya, dibalik kurang ramah nya beliau semoga obatnya manjur. Aamiin. Dan mau tau brp ongkos yang saya keluarkan??? Yah asal manjur, saya oke aja dijudesin sama bu dokter. Duit segitu ntar baliknya berlipat-lipat asal ikhlas. Yekan? Yegak?. 

Semoga Kita senantiasa sehat dan kaya raya. Aamiin. 




-ta-
0

11 Feb 2017

Kala Cinta Menggoda

Jalanan ini selalu saya lewati. Selalu. Selain banyak PKL yang jualan jajanan dan makanan, jalan ini adalah alternatif yang lumayan bebas hambatan alias macet. Karena tiap hari lewat saya pun sampai hapal macam-macam makanan yang dijajakan para PKL. Banyak dari mereka yang memang sudah lama berjualan di tempat itu ada juga yang beberapa datang dan pergi.

Ada dua pedagang yang menarik perhatian saya. Menarik karena selain mangkalnya di ujung jalan agak jauh dari PKL yang lain. Dua pedagang yang satunya adalah pedagang cilok, dan yang lain adalah penjaga stand donat. Hehehe. Yang menarik adalah beberapa hari saya perhatikan si abang cilok itu apabila tidak sedang melayani pembeli dia selalu duduk di stand si mbak penjaga donat. Dan dari bahasa tubuh mereka seperti terlihat ada eng ing eng. 

Yah gitulah you know kan. Jadi inget lagunya Chrisye Kala Cinta Menggoda. Sekian dan terima kue cubit.πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

0